FGD Kodifikasi UU Pemilu Digelar di Medan

0
1028
Focus Group Discussion Perludem di Hotel Aston Medan, Jumat (13/6) menghadirkan Guru Besar Hukum Tata Negara Saldi Isra.
Focus Group Discussion Perludem di Hotel Aston Medan, Jumat (13/6) menghadirkan Guru Besar Hukum Tata Negara Saldi Isra. Foto : James P Pardede

Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) di Hotel Aston Medan, Jumat (13/6) mengangkat topik tentang Kodifikasi Undang-undang Pemilu yang diantaranya membahas kajian Pemilu serentak tahun 2019, perlu ada UU yang sinkron antara UU Pilpres dan Pileg, banyaknya UU yang pengaturannya berbeda-beda seperti UU Pemilukada, pemilu legislative dan pemilihan umum presiden serta evaluasi terhadap aturan apa yang perlu direvisi atau diperbaiki di masa yang akan datang.

Lia, wakil dari Perludem menjadi moderator sekaligus membuka forum diskusi yang menghadirkan nara sumber Guru Besar Hukum Tata Negara dan Direktur Pusat Studi Konstitusi FH Universitas Andalas, Saldi Isra. Menurut Lia, Perludem dalam beberapa kesempatan melakukan FGD dibeberapa daerah, yang tujuannya untuk melihat bagaimana peraturan UU pemilu itu sesungguhnya, dan apa saja yang jadi permasalahan dan upaya apa yang harus dilakukan untuk perbaikannya di masa yang akan dating.

“Di dalam Undang-undang Pemilu ada aturan-aturan yang tumpang tindih, pasal yang menentukan pelanggaran tapi ayat yang dirujuk tidak tepat sehingga tak bisa diberi sanksi karena rujukannya tak tepat,” papar Lia.

Selanjutnya, Saldi Isra menyampaikan paparannya tentang kepemiluan. Menurut Saldi Isra, gagasan kodifikasi ini sesungguhnya muncul sejak 2004. Yaitu, gagasan penyatuan undang-undang pemilu dengan menggelar pemilu dan pemilukada serentak. Kenapa hal ini diusulkan? Karena terlalu banyak diatur sehingga berpotensi tumpang tindih.

“Berdasar pada aspek hukum tata Negara, argumentasi penyatuan UU Pemilu dalam satu kitab undang-undang memang sangat kuat. Untuk praktisnya saja, kenapa perlu ada kodifikasi UU Pemilu ? Salah satu tujuannya adalah agar kita bias keluar dari kesulitan saat ini, karena pengaturan yang ada tidak fokus. Ketika UU Pemilu dicoba untuk dibahas tak pernah ada upaya untuk membahasnya secara detail. Terutama soal pelanggran pemilu dan pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu,” paparnya.

Misalnya, lanjut Saldi Isra sampai sejauh mana undang-undang pemilu membahas permasalahan politik uang dalam pelaksanaan pemilu ? Karena defenisi dan penjabaran tentang money politic ini mengambang dan tak jelas, kita seringkali jadi ragu untuk membahas undang-undang ini secara lebih dalam lagi.

“Jika segala sesuatu permasalahan pemilu ini diatur dalam satu kitab atau buku maka akan tunduk pada kitab itu sendiri. Pelanggaran yang dianggap sangat berbahaya di dalam agenda Pileg tapi di agenda pilkada tidak. Hal-hal seperti ini dianggap mencederai jalannya demokrasi,” katanya.

Kitab UU pemilihan umum jika dibuat menjadi satu akan menjamin kepastian hukum, kemudian tahapan dan penegakan hokum datur dan dibuat dalam satu buku agar bisa menyederhanakan pihak-pihak yang terlibat.

“Kita akan mudah mengadopsi semua keputusan yang dibuat MK. Masalahnya adalah, apakah  DKPP bisa memberhentikan KPU dan Bawaslu yang nota bene orang-orangnya di daerah adalah orang-orang yang memiliki kewenangan dalam memilih dan dipilih. Ketika penyelenggara pemilu dipecat, maka sekarang ada ruang untuk mempersoalkan permasalahannya  ke PTUN,” tandasnya.

Permasalahan Pemilu dan pembahasan tentang UU Pemilu tak pernah ada kata ujung. Dari desain sistem pemilu yang ada, tambah Saldi Isra pemilih sama sekali tidak memiliki instrumen untuk menegur perilaku praktik dagang sapi elite politik. Karena pemilu belum selesai, perlu diingatkan, bagi mereka dan partai politik yang menggadaikan persentase hasil pemilu legislatif, pemilih akan memberikan hukuman yang setimpal. Sekiranya gagalnya sejumlah elite meraih kembali kursi di DPR tidak cukup dijadikan pelajaran, hukuman lebih berat akan terbentang dalam pemilu presiden dan wakil presiden. | James P. Pardede

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here