Myntra coupons site- fashion shop for casual, footwear,wear kurti, wallet,loafer,fastrack, roadster

top Flipkart coupon voucher code and shop for moto phone,kurtis, new handbag, book,headphone, samsung electronic big order

abof coupons code 2017

promo coupon code for brands like Flipkart, myntra, Amazon, godaddy, Shopclues, pizza hut, dominos and more best deals

Home » Artikel » Cerdas dan Bijak dalam Menanggapi Kampanye Hitam

Cerdas dan Bijak dalam Menanggapi Kampanye Hitam

Kalau dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang tidak senang dengan teman sekelas, atau saingan dalam sebuah pertandingan, maka seseorang itu akan mencari cara untuk menjatuhkan teman atau lawannya. Biasanya, kalau dalam ruang lingkup yang kecil akan tersebarlah sebuah gossip murahan atau isu-isu yang dianggap dapat menjatuhkan pamor lawan atau teman. Kalau dalam istilah suku Batak dikenal dengan istilah Elat, Late dan Teal (iri dan dengki pertanda tak mampu menyaingi). Kalau dalam suku Karo ada istilah yang disebut dengan Anceng, Cian, Cikurak (ACC) dimana pengertiannya kurang lebih sama dengan iri hati dan dengki juga.

Di daerah-daerah tertentu akibat dari rasa iri, dengki dan cemburu ini bisa berakibat sangat fatal. Antara lain melancarkan serangan balik dengan mengirimkan “guna-guna” agar orang yang dianggap mengganggu kredibilitas atau keberadaan seseorang yang merasa terganggu tersebut aman dari persaingan. Apabila serangan yang dilancarkan berhasil, berarti orang tersebut bisa dengan mulus melangkah untuk menunjukkan kehebatannya, dan dianggap berhasil menjalankan aksinya menyingkirkan rivalnya.

Cara seperti ini masih saja terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Cara lainnya adalah menyebarkan berita bohong atau mencoba mencari informasi lain yang dianggap bisa menjatuhkan lawan atau saingan. Hanya karena seorang suami menegur isteri orang lain misalnya, keesokan harinya langsung beredar isu bahwa suami si A berselingkuh dengan si R. Upaya ini dibumbui dengan banyak kata-kata agar orang lain marah dan emosinya terpancing saat mendengar gosip tersebut.

Penyebaran gosip atau isu yang seringkali bertolakbelakang dengan kenyataan, sudah ada sejak lama dalam kehidupan manusia. Kalau dalam dunia politik isu-isu miring dan negatif ini sering disebut sebagai kampanye hitam (black campaign). Pada saat pemilihan kepala daerah, baik gubernur, bupati atau walikota yang namanya kampanye hitam akan tersebar kemana-mana dan cenderung menjelek-jelekkan calon lainnya.

Dalam agenda pemilihan umum (Pemilu) legislatif kemarin pun yang namanya kampanye hitam selalu saja bermunculan. Bahkan, yang paling miris lagi adalah sesama caleg satu partai pun saling menjelekkan dan menyebarkan isu tak sedap agar saingannya tidak dipilih oleh masyarakat yang ada di daerah pemilihannya. Sekarang, dalam tingkat nasional, ada agenda pemilihan umum (Pemilu) presiden dan wakil presiden. Tahap pendaftaran pasangan capres-cawapres sudah dilaksanakan, berarti ada dua pasangan capres dan cawapres yang maju pada Pemilu Pilpres 9 Juli 2014 nanti.

Jauh-jauh hari sebelum pendeklarasian pasangan capres dan cawapres, masyarakat kita sudah disodori dengan berbagai bentuk kampanye hitam. Ada yang lewat media sosial Facebook, Twitter dan BBM. Ada juga media yang sengaja memuat tulisan-tulisan tentang keburukan salah satu calon presiden. Apabila sistem ini dibiarkan terus, dikhawatirkan masyarakat kita akan merasa muak dan bosan dengan agenda-agenda pemilu yang walaupun pada prinsipnya adalah salah satu agenda penentu nasib bangsa ini ke depan.

Kampanye hitam sesungguhnya bukan sebagai salah satu strategi pemenangan yang dianggap dapat mendongkrak perolehan suara. Praktik ini sesungguhnya menjadi cermin dari diri kita sendiri dalam menjalankan etika berpolitik. Memunculkan kampanye hitam berarti etika para politisi dan pendukungnya masih rendah dan cenderung menghalalkan segala cara demi untuk memenangkan calon yang diusungnya.

Umumnya, kampanye hitam yang disebarkan baik lewat media elektronik, media massa, media sosial, atau selebaran dan hampir semuanya berisi fitnah. Anehnya, fitnah yang tersebar itu cenderung diminati dan dianggap benar untuk menjatuhkan citra seseorang di mata publik. Sesuai tujuannya untuk menjatuhkan lawan politiknya, isu yang dijual dalam kampanye hitam sangat vulgar dan tidak mempertimbangkan aspek moral, bahkan kerap pula menyinggung persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Masyarakat Cerdas dan Bijak

Informasi apa pun yang dianggap bisa menjatuhkan lawan dan menjatuhkan citra lawan di hadapan para pemilihnya dianggap sah-sah saja oleh pelaku penyebar fitnah. Kadang-kadang, kalau melihat konten dari fitnah yang disebarkan terkesan orang-orang yang menyebarkan fitnah tersebut sangat ahli dalam membolak-balikkan fakta sesungguhnya.

Contoh paling aktual adalah serangan terhadap capres yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo (Jokowi). Kampanye hitam dimaksud berupa iklan duka cita kematian Jokowi. Di dalam iklan itu digambarkan Jokowi memeluk agama dan disebutkan berlatar belakang suku yang berlainan dengan fakta yang sebenarnya. Tujuan penyebarluasan iklan tersebut jelas melontarkan fitnah bagi Jokowi dengan harapan melahirkan sentimen negatif di masyarakat.

Di media sosial dan media online ada banyak isu negatif tentang capres Jokowi disebarluaskan. Bahkan, ada salah satu stasiun televisi yang dengan sengaja hanya memberitakan kejelekan-kejelekan Jokowi selama memimpin DKI Jakarta. Sisi baiknya hampir luput dari pemberitaan tv tersebut. Menyikapi hal ini, masyarakat perlu cerdas dan bijak dalam menanggapi setiap pemberitaan negatif tentang kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

Negara kita adalah negara hukum, apabila ditemukan ada oknum yang menyebarkan isu negatif tentang salah satu pasangan capres dan cawapres, aparat Kepolisian harus bertindak secara tegas dan tetap berpedoman kepada aturan-aturan yang ada. Jika terbukti bersalah, berarti harus siap dengan konsekuensinya menjalani hukuman yang setimpal. Hal ini penting dilaksanakan agar ada pembelajaran kepada siapa saja untuk tidak mudah melontarkan kampanye hitam yang tanpa didasari fakta.

Siapa pun mengakui kalau secara umum atau secara praktikal, kampanye hitam dengan penyebaran isu negatif dianggap sangat efektif untuk menjatuhkan citra seseorang atau citra pasangan lainnya. Bahkan membunuh karakter seseorang, termasuk menamatkan karier politik seseorang. Citra lawan politik akan jatuh dan melahirkan sentimen negatif dari calon pemilih dan masyarakat. Apakah cara ini masih tetap dilakukan oleh orang-orang tertentu yang tidak menginginkan orang lain memperoleh kesempatan untuk menjadi pemimpin bangsa ini lima tahun kedepan ?

Ketika kita berhadapan dengan orang-orang yang suka menyebarkan isu negatif tentang orang lain, apa sikap kita terhadap orang tersebut ? Apakah kita langsung percaya dan terhanyut dengan gosip yang disebarkan ? Di satu sisi, mungkin kita bisa percaya dengan informasi-informasi yang disampaikan oleh penyebar isu. Atau sebaliknya tidak percaya sama sekali, seraya melakukan cek dan ricek tentang isu yang disampaikan.

Di sisi lain, kita perlu waspada dan memiliki kemampuan lebih cerdan dan lebih bijak dalam memilah mana pesan yang sebenarnya dan mana yang merupakan kampanye hitam. Sebab, kampanye hitam umumnya tidak berdasar pada fakta, dan cenderung fitnah terhadap seseorang. Karena, dalam UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden telah diatur bahwa kampanye tidak boleh dilakukan dengan cara menghina seseorang, suku, agama, ras, antargolongan calon atau peserta pemilu yang lain. Termasuk materi yang dilarang dalam kampanye adalah menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat.

Dengan berpedoman pada undang-undang tersebut, tim sukses dari pasangan Capres dan Cawapres harus benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak merugikan pasangan calon lain. Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945, kita harus cerdas dan bijak dalam menanggapi setiap materi atau seruan yang menjurus kepada kampanye hitam. Jangan langsung percaya ketika ada seseorang yang menjelekkan pasangan capres atau cawapres. Pastikan dalam pemilu Presiden ini kita memiliki pilihan yang tepat.

  • James P. Pardede
  • Tulisan ini sudah dimuat di Harian Analisa, 9 Juni 2014

http://analisadaily.com/news/read/cerdas-dan-bijak-dalam-menanggapi-kampanye-hitam/36571/2014/06/09

 

Check Also

Kaum Miskin Kota Tak Pernah Berharap Lebih pada Pemerintah

Oleh : James P Pardede Matahari pagi terasa panas dan menusuk ke pori-pori, pukul 09.00 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *